Siang ini aku duduk di samping orang yang kusayangi. Seseorang yang dulu menjadi kenangan semasa ku duduk di bangku Sekolah Dasar. Yang dulu sering menggenggam erat tanganku saat hujan mengguyur dan menemaniku saat aku menangis. Hebatnya, tak ada yang berubah. Pandangan matanya masih seperti yang kulihat empat tahun yang lalu. Kebisuannya masih sama saat kupalingkan wajahku ketika ia berlalu dari pandanganku.
Aku dan dia terpisah jarak tanpa sepatah kata perpisahan. Empat tahun lamanya aku memendam rasa padanya. Aku menunggu dan menunggu kapan ia kembali. Dan akhirnya, dia ada disampingku saat aku menulis blog ini.
Singkat kata, singkat cerita. Aku dan dia jatuh cinta. Perasaan ini menjadi sebuah derita untukku, dan aku berharap dia juga merasa apa yang kurasa, tanpa banyak tanda tanya.
Akhirnya aku mengerti apa yang kurasakan padanya. Ketika dia pergi dan aku masih setia menunggunya. Ketika dia menyakiti dan aku masih bisa tersenyum untuknya. Ketika dia putus asa dan aku masih memperjuangkannya. Ketika dia terjatuh dan aku masih berdiri tegar melindunginya. Ketika dia jauh dan aku masih selalu mendoakannya.
Saat bersamanya aku tertawa, saat dia tak ada aku memikirkannya. Mengenalnya adalah alasanku untuk dewasa. Karenanya aku bisa belajar lebih menghargai hidupku dan orang lain. Karenanya aku bisa lebih kuat dan tegar menghadapi ketakutan yang ada di depan mata. Karenanya aku bisa untuk lebih bersyukur atas semua yang Tuhan berikan.
Dia mengajariku tentang melihat dan menyayangi seseorang dengan sederhana. Dia memberiku pengertian bahwa rasa sayang tak harus dalam suatu ikatan atau hubungan, dan rasa sayang tak harus saling memiliki. Dia mengajariku menyayangi tanpa harus selalu bertemu tapi saling mendoakan. Dia mengajariku bagaimana kita saling memberi, saling berbagi, saling melengkapi, saling mengerti, saling percaya, saling menjaga dan melindungi. Tak pernah dia mengajariku bahwa rasa sayang saling menyakiti. Tak ada kata perbedaan antara kita. Justru perbedaan antara aku dan dialah yang menyatukan kita. Sebab Tuhan menciptakan cinta, agar yang berbeda-beda itu bisa menyatu.
Tuhan, aku selalu berdoa agar dia selalu bahagia. Terlalu besar rasa sayangku padanya untuk membiarkan dia bersedih. Tak rela hatiku untuk menangisi dia karena merasakan sakit yang tak seharusnya dia rasakan. Terlalu tak tahu bagaimana caranya untukku membayar rasa bersalah yang kurasakan sampai dia tersakiti. Aku tak ingin melihatnya menangis. Yang kuingin, selalu melihat dia tertawa.
Selama aku masih bisa membuka kedua mataku, aku ingin meihat dunia lebih indah dari hari ini karena senyumnya. Selama aku masih bisa tertawa, aku ingin dia melihatku tertawa karenanya. Selama aku masih bisa berpikir jernih, aku ingin selalu mengingat cerita cintaku dan dia yang rumit, cerita kebersamaanku dengannya, semua kisah yang pernah ada antara aku dengannya, dan aku ingin segala cerita yang sedang ku jalani bersamanya takkan berakhir sia-sia sampai disini. Selama aku masih bisa berdoa, aku ingin selalu bersyukur pada Tuhan karena telah memberi aku kebahagiaan lewat dia. Selama aku masih bisa berjalan, aku ingin jalan berdampingan dengannya sebagai wanita yang merasa paling beruntung dan bahagia punya cinta seindah dia.
Terimakasih Tuhan, dia adalah hadiah terindah di setiap hariku. Aku tak perlu lagi meragu bahwa dia menyayangiku. Karena aku tahu, perasaannya sama tersirat sepertiku. Kini aku sudah berhadapan dengannya, menggenggam erat tangannya dengan senyum yang merekah. Melihat tajam tatapan matanya, merasakan hangat peluknya, dan lembut kecupannya. Karena dia telah menjadi seorang teman, sahabat, dan anugerah terindah yang pernah kumiliki.
Setelah selesai menulis blog ini, aku memandang wajahnya yang cerah. Kulihat senyuman yang begitu indah dari wajahnya. Ku baca lagi pesan singkat darinya pada telepon selulerku, yang dia beri tanggal 9 Januari 2011. Berulang kubaca kalimat terakhirnya. Dia tulis “I’ll always love you”.